Sunan Drajat menjadi salah satu wali songo yang keberadaannya diliputi mitos dan dongeng. Termasuk soal ikan cakalang yang menyelamatkannya saat kapalnya diterjang badai.
---
Intisari hadir di WhatsApp Channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com - "Nasib Sunan Drajat dalam sejarah, tepatnya dalam kepustakaan, sama dengan Sunan Muria, hanya eksis dalam legenda," begitu tulis Seno Gumira Ajidarma dalam "Sunan Drajat Wali Yang Menunggang Ikan" tayang di Intisari edisi Mei 2006.
Sunan Drajat adalah Wali Songo yang berdakwah di daerah Lamongan, tepatnya di Desa Jelak, Banjarwati, Paciran.
Seperti disebut di awal, dalam catatan sejarah, sangat sedikit yang membahas tentang Sunan Drajat. "Hanya terdapat tiga halaman catatan tentang Sunan Drajat dalam karya Ridin Sofwan, Wasit, dan Mundiri. Seperti dalam semua versi, ia disebut sebagai putra Sunan Ngampel Denta dan karena itu bersaudara dengan Sunan Bonang, sekaligus beripar Sunan Giri, Raden Patah, maupun Sunan Kalijaga," tulis Seno.
Buku yang dimaksud Seno adalahIslamisasi di Jawa: Walisongo, penyebar Islam di Jawa, menurut penuturan babad (Pustaka Pelajar, 2000).
Dari pernikahannya dengan Nyi Ageng Manila, Sunan Ampel mempunya lima orang anak, tiga di antaranya adalah perempuan. Sementara dua yang laki-laki adalah Raden Qosim (Sunan Drajat) dan Maqdum Ibrahim (Sunan Bonang).
Ketika dewasa, Sunan Ampel memerintahakn Raden Qosim berdakwah di barat Gresik. Tapi di tengah perjalanan, perahunya ditendang badai hingga hancur dan hanya meninggalkan keping-keping kayu.
Tapi di waktu bersamaan, datangnya seekor ikan cakalang. Konon, ikan itu menyediakan punggungnya untuk dinaiki Raden Qosim dan membawa sang wali hingga ke tepi desa Jelak (ada juga yang menyebutnya Jelog), yang sekarang adalah bagian dari wilayah Banjarwati, Kecamatan Paciran.
Tak sekadar menyelamatkan, Raden Qosim juga menyebut itu sebagai petunjuk. Petunjuk untuk membuka pesantren. Setelah setahun, Raden Qosim memindahkan pesantrennya sejauh satu kilometer ke arah selatan, ke tempat yang letaknya lebih tinggi, yang dikenal sebagai Dalem Dhuwur.
Tempat itu sekarang dikenal sebagai Desa Drajat, Raden Qosim sendiri dikenal sebagai Sunan Drajat.
Soal asal-usul Sunan Drajat, ternyata ada perbedaan versi.Dalam catatan Hasanu Simon dalam Misteri Syekh Sitijenar: Peran Walisongo dalam Mengislamkan Tanah Jawa (2004) maupun Widji Saksono dalam Mengislamkan Tanah Jawa: Telaah atas Metode Dakwah Walisanga (1995) disebut bahwa Sunan Drajat bukan putra Sunan Ampel dari Nyi Ageng Manila, tapi dariNyai Karimah dan namanya adalah Masaih Munad atau Mahmud
Masih mengutip Seno, nama alis Sunan Drajat memang banyak sekali. Misalnya Sunan Mayang Madu, Sunan Muryapada, Raden Imam, Maulana Hasyim, Syekh Masakeh, Pangeran Syarifuddin, dan Pangeran Drajat.
Kami kutipkan lengkap penjelasan Seno di Majalah Intisari:
"Jika versi yang telah terbaca menyebut sebelah barat Gresik sebagai lokasi tugas dakwahnya, versi lain adalah sebelah barat Surabaya -- dan yang menolongnya ketika terjadi badai tidak disebut sebagai ikan cakalang melainkan ikan talang. Nah, sesampainya di Jelak, Banjarwati, kita bisa mendengar sambungannya.
Raden Qosim disambut tetua desa yang bernama Mbah Mayang Madu dan Mbah Banjar. Konon mereka ini sebelumnya sudah masuk Islam, karena ada pendakwah lain dari Surabaya yang juga pernah terdampar di sana.
Dalam catatan Simon, tahun terdamparnya Raden Qosim adalah 1485 dan ia perkirakan tahun lahirnya adalah 1450. Namun tiada bukti maupun argumen filologis dan arkeologis atas perkiraan ini.
Adalah karena surau dan pesantren yang didinkannya, maka Desa Jelak menjadi ramai dan berkembang menjadi kampung besar. Disebutkan nama Jelak ini diubah menjadi Banjaranyar, Raden Qosim menikah dengan putri Mbah Mayang Madu yang bernama Kemuning, lantas pindah setelah tiga tahun bermukim di situ.
Hanya satu kilometer jaraknya, tetapi itulah desa berbukit kecil yang bernama Drajat (Simon mengejanya Drajad). Di atas bukit itulah ia membangun Dalem Dhuwur, tempatnya tinggal dan mengajar, dan akhirnya ternisbahkanlah namanya dari sana: Sunan Drajat.
Konon bukan hanya Kemuning istrinya, melainkan juga Retnayu Condrosekar putri Adipati Kediri Raden Suryodilogo dan Dewi Sufiah putri Sunan Gunungjati.
Pernikahan dengan Sufiah diriwayatkan juga dalam versi lain: bahwa mereka bertemu sebelum Raden Qosim tinggal di Drajat dan berguru kepada Sunan Gunungjati. Dengan kata “versi” tidak dimaksudkan bahwa ada satu "yang benar", karena setiap "versi" membawa pembenarannya sendiri, sementara tiada data filologi maupun arkeologi yang bisa dipegang, meski sekadar untuk memperkirakan.
Menolong tanpa pilih kasih
Buku cerita bergambar yang ditulis Syam, ditulis Syam, Sunan Drajat (1987) dan Raden Syarifuddin (1987), seperti dikutip oleh Simon, ternyata memberikan dongeng yang sama sekali berbeda.
Disebutkan betapa Syarifudin (dengan satu "d") masih kecil ketika ayahandanya meninggal dunia. Maka bergurulah ia kepada kakaknya, yang sudah dikenal sebagai Sunan Bonang (Simon mengeja Mbonang) di Tuban.
Adapun cara Sunan Bonang mengajari agak mirip seperti terhadap Sunan Kalijaga: Syarifudin disuruh masuk hutan terlebih dahulu. Beberapa lama, ketika menjenguk, Sunan Bonang meninggalkan kitab suci al-Qur'an yang terbuat dan lontar. Konon Syarifudin tak tahu menahu apa yang bisa dikerjakan dengan kitab suci tersebut, dan hanya bisa berjalan tanpa tujuan yang pasti.
Suatu hari, ketika termenung di tepi sungai di Desa Drajat, dalam keadaan setengah tidur masuklah Sunan Giri ke dalam mimpinya. Iparnya itu tu konon mengajarkan isi al-Qur'an sehingga dalam waktu singkat Syarifudin sudah bisa memahami maknanya.
Ini membuatnya mampu mengajar kepada penduduk sekitar di desa Drajat - lantas disebutlah ia sebagai Sunan Drajat.
Dari pengisahan Syam ini tersebutlah suatu kisah mistik. Seperti dikutip Simon, suatu hari pantai utara Tuban dilanda angin topan, konon karena selain penduduk tak sudi memeluk Islam ternyata bahkan menghina pula.
Begitu banyak orang terseret oleh gelombang laut, termasuk para santri Sunan Drajat sendiri. Maka Sunan Drajat naik perahu, berdoa, dan redalah badai itu, sehingga ia bisa menolong para santrinya maupun orang-orang lain, yang selama ini telah menghinanya.
Para santri dan pembantu Sunan Drajat konon protes atas pertolongan yang tidak pilih kasih itu, tetapi Sunan Drajat tidak berhenti menolong siapa pun yang harus ditolong.
Tentu saja cerita ini sendiri sangat berbau dakwah, dan karena itu tidak perlu dipersoalkan benar tidaknya, karena dengan suatu cara juga memanfaatkan sebagai data bahwa dongeng yang mana pun memiliki kepentingannya sendiri.
Wacana lokal dan politik identitas
Meski tanpa dasar yang ilmiah, terdapat sejumlah informasi mengenai kegiatan Sunan Drajat, misalnya bahwa ia berdakwah dengan memanfaatkan kesenian. Dalam lembang mijil yang konon diciptakannya, seperti dikutip Simon, tercatat lirik seperti berikut:
---
Dedalane guno lawan sekti, kudu andhap asm Wani ngalah duwur wekasane. Tumungkula yen dipun dukani. Bapang den simpangi, ono catur mungkur.
Kalau ingin berguna dan sakti, haruslah lemah lembut, mengalah agar mencapai kemuliaan, menundukkan wajah dan mendengarkan kalau dimarahi, hindarkan perselisihan sampai persoalan berlalu.
---
Sebelum berlanjut, mohon diperhatikan bahwa bahasa Jawa yang digunakan dalam teks tersebut tergolong bahasa Jawa Baru dan sama sekali bukan Jawa Kuno atau Kawi. Naskah-naskah yang membentuk semesta "Sastra Jawa Tradisional", menurut Nancy K. Florida dalam Menyurat yang Silam, Menggurat yang Menjelang (2003) sebagian besar ditulis dalam rentang 250 tahun terakhir, artinya antara abad ke-18 dan ke-20.
Catatan ini penting untuk bersikap kritis terhadap bahasa sumber "data" mengenai Sunan Drajat, yang kalau memang terdapat sosok historisnya, hidup pada abad ke-15.
Kembali kepada teks di atas, meski tampaknya "Jawa sekali" nasihat semacam itu disebut merupakan penurunan dan ayat al-Qur'an juga, dan sering menjadi contoh bagaimana Sunan Drajat, seperti juga para walisanga lain, menghindarkan citra "kearab-araban" yang kemungkinan besar tak akan efektif dalam usaha dakwah pada masanya.
Sunan Drajat, seperti dicatat Saksono, juga disebut-sebut berjasa dalam penyempurnaan alat pengangkutan alias transportasi dan bangunan perumahan. Kita tidak mempunyai cara menerima informasi semacam ini dengan bertanggung jawab.
Kecuali memakluminya bahwa ketika intelektualisasi pencitraan juga dilakukan kepada para sunan lain, memang berlangsung suatu kepentingan yang relevan dengan tafsiran bahwa agama itu harus menyentuh langsung kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, wajarlah bahwa apa yang dianggap sebagai "ajaran Sunan Drajat" seperti berikut inilah yang sampai sekarang masih diingat orang:
---
Paring teken marang hang kalunyon Ian wuto, paring pangan marang kang kaliren, paring sandhang marang kang kawudan, lan paring payung marang kang kodanan
Memberi tongkat kepada orang yang sedang berjalan di tempat licin dan orang buta, memberi makan kepada yang kelaparan, memberi pakaian kepada yang telanjang, memberi pavung kepada yang kehujanan
---
Seperti dicatat oleh Sofwan, Wasit, dan Mundiri, maksud ajaran lersebut adalah: Beri petunjuk yang tidak tahu, sejahlerakan rakyat yang miskin, ajarkan budi pekerti kepada yang tidak beradab, dan lindungilah orang-orang yang tertindas.
Jelas ini merupakan suatu kebijakan sosial yang lidak asing bagi agama dan kebudayaan mana pun. Seolah-olah bagi Sunan Drajat bukanlah baju agama yang paling penting bagi manusia, tetapi perilaku sosial macam apa yang menjamin keberadaban pemeluk agama mana pun.
Siapa pun yang merumuskan kembali "ajaran Sunan Drajat” tersebut pastilah memiliki kesadaran tentang bias yang dimungkinkan oleh apa yang dapat disangka sebagai identitas agama tertentu.
Anggapan bahwa para wali memanfaatkan wacana lokal dalam penyebaran agama, menjelaskan terdapatnya kesadaran akan suatu politik identitas, karena masalah identitas memang tak mungkin dilepaskan dan kondisi kebudayaan yang dalam dirinya sendiri selalu berproses."
Begitulah kisah Sunan Drajat, wali songo yang konon pernah ditolong oleh ikan cakalang. Terlepas dari benar-tidaknya kisah itu, kita masih bisa melihat jejak dakwahnya di Desa Drajat, Paciran, Kabupaten Lamongan.
Baca Juga: Maulana Malik Ibrahim Sang Wali Songo Pertama di Tanah Jawa, Sebuah Tinjauan Kritis