Jangan GR, Tradisi Mudik Nggak Hanya Milik Indonesia, Begini Fakta Sebenarnya

Moh. Habib Asyhad
Moh. Habib Asyhad

Editor

Tradisi mudik tak hanya milik Indonesia. Di beberapa negara seperti China, Jepang, dan Malaysia juga ada tradisi serupa, tentu dengan penyebutan yang beda-beda (Valens Doy/Kompas)
Tradisi mudik tak hanya milik Indonesia. Di beberapa negara seperti China, Jepang, dan Malaysia juga ada tradisi serupa, tentu dengan penyebutan yang beda-beda (Valens Doy/Kompas)

Jangan kegeeran bilang bahwa mudik adalah tradisi asli Indonesia. Tradisi serupa juga bisa kita jumpai di negara-negara lainnya, seperti China dan Malaysia.

---

Intisari hadir di WhatsApp Channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Siapa bilang mudik atau tidak mudik cuma milik orang Indonesia. Di bebera negara, tradisi pulang kampung seperti di kita juga ada.

Ada tradisi Seker di Turki, ada juga Obon di Jepang, secara garis besar, itu adalah tradisi-tradisi terkait pulang kampung. Berikut adalah tradisi mudik di berbagai negara di dunia.

Baca Juga: Selalu Jadi Sorotan Saat Mudik Lebaran, Ternyata Begini Sejarah Jalur Nagreg, Masih Punya Hubungan Dengan Daendels

1. Chunyun (China)

Di China, tradisi mudik disebut Chunyun, yang merupakan migrasi manusia terbesar di dunia. Saat Tahun Baru Imlek, jutaan orang Tionghoa berbondong-bondong pulang kampung untuk berkumpul bersama keluarga. Tradisi ini berlangsung selama 40 hari, dengan puncaknya terjadi beberapa hari sebelum Tahun Baru Imlek.

2. Onam (India)

Di India, tradisi mudik dikenal dengan Onam, yang merupakan festival panen yang dirayakan oleh orang-orang Kerala. Saat Onam, perantau Kerala kembali ke kampung halaman untuk berkumpul bersama keluarga dan merayakan festival ini.

3. Seollal (Korea Selatan)

Di Korea Selatan, tradisi mudik disebut Seollal, yang merupakan Tahun Baru Korea. Saat Seollal, orang Korea Selatan berbondong-bondong pulang kampung untuk menghormati leluhur dan berkumpul bersama keluarga.

4. Obon (Jepang)

Di Jepang, tradisi mudik disebut Obon, yang merupakan festival untuk menghormati leluhur. Saat Obon, orang Jepang berbondong-bondong pulang kampung untuk mengunjungi makam leluhur dan berkumpul bersama keluarga.

5. Seker Bayram (Turki)

Di Turki, tradisi mudik disebut Seker Bayram, yang merupakan Hari Raya Idul Fitri. Saat Seker Bayram, orang Turki berbondong-bondong pulang kampung untuk berkumpul bersama keluarga dan merayakan hari raya.

6. Balik Kampung (Malaysia)

Warga Malaysia mengenal tradisi mudik dengan sebutan "balik kampong" atau "eksodus hari raya". Hal ini merujuk pada hiruk pikuk perjalanan ke kampung halaman yang biasanya dimulai satu pekan sebelum tanggal 1 Syawal.

Hidangan tradisional yang disajikan saat lebaran di Malaysia pun tak jauh berbeda, yaitu ketupat, rendang, saus kacang pedas dan lemang. Tradisi mudik di berbagai negara di dunia memiliki keunikan dan maknanya sendiri.

Namun, tradisi ini pada dasarnya memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk berkumpul bersama keluarga dan memperkuat hubungan kekeluargaan.

Di Indonesia bisa dirunut sejak era Majapahit

Mengutip Kompas.com,mudik sebenarnya sudah ada sejak zaman kerajaan. Dosen Sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Silverio Raden Lilik Aji Sampurno mengatakan, kebiasaan mudik dimulai sejak zaman Majapahit dan Mataram Islam.

"Awalnya, mudik tidak diketahui kapan. Tetapi ada yang menyebutkan sejak zaman Majapahit dan Mataram Islam," kata Silverio.

Dulu,wilayah kekuasaan Majapahit begitu luas hingga ke Sri Lanka dan Semenanjung Malaya. Kerajaan Majapahit pun menempatkan para pejabatnya di titik-titik kekuasaan mereka. Sampai pada suatu ketika, pejabat tersebut akan kembali ke pusat kerajaan untuk menghadapi raja dan mengunjungi kampung halaman.

Kebiasaan ini lantas dikaitkan dengan lahirnya fenomena mudik. "Selain berawal dari Majapahit, mudik juga dilakukan oleh pejabat dari Mataram Islam yang berjaga di daerah kekuasaan. Terutama mereka balik menghadap Raja pada Idul Fitri," kata Silverio.

Sementara, menurut Dosen Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Yuanda Zara, tradisi mudik ada sejak masa awal kemerdekaan Indonesia. Kala itu, banyak masyarakat yang berbondong-bondong merantau ke Jakarta lantaran fokus pembangunan ada di ibu kota negara.

Setelah beberapa tahun tinggal, para pendatang itu rindu pada kampung halaman mereka. Berangkat dari situ, muncul fenomena pulang ke kampung halaman secara massal dari para pekerja di Jakarta.

Melihat ini, pemerintah pun memberikan perhatian serius. Tahun 1960-an jalur-jalur kereta api dari masa kolonial kembali dihidupkan di seluruh wilayah untuk memudahkan warga pulang ke kampung halaman.

Dalam perkembangannya, mudik juga dilakukan dengan moda transportasi bus, kapal, pesawat, bahkan mulai tahun 1980-an orang banyak mudik menggunakan kendaraan pribadi. "Sampailah ke era sekarang yang kita lihat tadi itu telah berlangsung sekitar 70 tahun dalam skala yang besar, kalau sebelumnya hanya skala personal," kata Yuanda, seperti dikutip dari Historia.ID.

Meski sudah menjadi tradisi sejak lama, istilah "mudik" baru populer di tahun 1970-an. Menurut Silverio, sejak saat itu mudik dikenal sebagai tradisi yang dilakukan oleh perantau untuk kembali ke kampung halamannya dan berkumpul bersama keluarga, khususnya ketika Lebaran.

Mudik banyak dilakukan oleh perantau di Jakarta yang mayoritas berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sementara, bagi masyarakat Jawa sendiri, "mudik" diartikan sebagai mulih dhisik atau pulang dulu.

"Mudik menurut orang Jawa itu kan dari kata mulih dhisik yang bisa diartikan pulang dulu. Hanya sebentar untuk melihat keluarga setelah mereka menggelandang (merantau)," kata Silverio.

Di sisi lain, masyarakat Betawi mengartikan mudik sebagai "kembali ke udik". Dalam bahasa Betawi, "udik" berarti kampung.

Ketikaorang Jawa hendak pulang ke kampung halaman, orang Betawi menyebut "mereka akan kembali ke udik". Akhirnya, istilah ini mengalami penyederhanaan dari "udik" menjadi "mudik".

Sementara, menurut Yuanda Zara, istilah mudik mulai banyak digunakan di tahun 1980-an. Sebelum itu, masyarakat umumnya menggunakan istlah "pulang kampung", "bersilaturahmi dengan keluarga besar", "halal bi halal dengan keluarga di daerah", dan sebagainya.

Begitulah, tradisi mudik ternyata tak hanya milik orang Indonesia. Negara-negara lain juga punya kebiasaan serupa.

Baca Juga: Tak Hanya di Indonesia, Inilah Tradisi Mudik di Berbagai Belahan Dunia

Artikel Terkait