Ternyata Ada Jejak Wali Songo di Luar Jawa Tepatnya di Maluku, Kok Bisa?

Moh. Habib Asyhad
Moh. Habib Asyhad

Editor

Sosok di balik berubahnya corak Kerajaan Ternate menjadi kerajaan Islam, Sultan Zainal Abidin, menjadi bukti jejak Wali Songo di luar Jawa, tepatnya di Maluku (Wikipedia)
Sosok di balik berubahnya corak Kerajaan Ternate menjadi kerajaan Islam, Sultan Zainal Abidin, menjadi bukti jejak Wali Songo di luar Jawa, tepatnya di Maluku (Wikipedia)

Sosok di balik berubahnya corak Kerajaan Ternate menjadi kerajaan Islam, Sultan Zainal Abidin, menjadi bukti jejak Wali Songo di luar Jawa, tepatnya di Maluku.

---

Intisari hadir di WhatsApp Channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Jejak dakwah Wali Songo tak hanya di Pulau Jawa. Dalam beberapa cerita disebutkan Wali Songo juga meninggalkan jejak di Luar Jawa, meskipun secara tidak langsung.

Sebagai informasi, kerajaan Islam Ternate dan Tidore ternyata punya keterkaitan dengan Sunan Giri, Wali Songo yang berbasis di sekitar Gresik, sekarang Jawa Timur.

Mengutip Kompas.com, hubungan Kerajaan Ternate dan Kerajaan Tidoredengan ulama dari Gresik tersambung lewat sosok Sultan Zainal Abidin.

Kerajaan Ternate dan Tidore merupakan dua kerajaan Islam yang berada di Kepulauan Maluku. Ternyata hubungan Kerajaan Ternate dan Tidore dengan ulama dari Gresik mulai terjalin setelah Sultan Zainal Abidin menimba ilmu agama Islam di sekolah yang dipimpin Sunan Giri.

Sultan Zainal Abidin adalah Raja Ternate ke-18 dan berkuasa pada 1486 hingga 1500. Pada 1495, Sultan Zainal Abidin pergi ke Gresik untuk belajar di pesantren Giri Kedaton yang dipimpin oleh Sunan Giri.

Dia belajar di sekolah itu selama tiga bulan. Sejak remaja, Zainal Abidin diketahui telah bercita-cita menjadi murid salah satu Wali Songo.

Karena itulah dia tertarik belajar di Gresik setelah mendengarkan penjelasan gurunya, Datu Maula Husein, tentang tingginya ilmu keagamaan Sunan Giri. Zainal Abidin pun menjadi satu-satunya sultan asal Maluku yang menimba ilmu dari salah seorang Walisongo.

Di sekolah pimpinan Sunan Giri itu, Sultan Zainal Abidin mendapat julukan Sultan Cengkih lantaran wilayah Maluku terkenal sebagai daerah penghasil rempah-rempah. Saat belajar di Gresik, Sultan Zainal Abidin bertemu pemimpin Hitu, Pati Tuban atau Pati Puteh.

Mereka menjalin persahabatan dan bermaksud membentuk persekutuan Hitu-Ternate.

Selain itu, Sultan Zainal Abidin juga menjalin persahabatan dengan orang-orang Jawa yang berpengaruh dan berkuasa. Penyebaran Islam di Maluku Saat kembali dari Jawa menuju Maluku, Sultan Zainal Abidin sempat mampir ke Makassar dan Ambon untuk membangun persahabatan dengan penguasa lokal di sana.

Sultan Zainal Abidin juga merekrutguru agama dari Jawa untuk diboyong ke Ternate dalam misi menyebarkan agama Islam di Maluku. Salah satu guru agama Islam asal Jawa yang diboyong Raja Ternate itu adalah Tuhubahahul.

Para ulama yang diboyong dari tanah Jawa itu kemudian diangkat menjadi guru agama, mubalig, dan imam di Ternate. Ini sekaligus menjadi cikal bakal lembaga Imam Jawa dalam struktur Bobato Akhirat pada pemerintahan Kesultanan Ternate.

Adapun permukiman ulama-ulama asal Jawa di Ternate itu masih bertahan hingga sekarang dan dikenal dengan nama Fala Jawa (rumah orang Jawa). Islam yang dibawa Sultan Zainal Abidin dari Gresik lalu menyebar ke berbagai di Maluku, termasuk wilayah Ternate dan Tidore.

Riwayat Sultan Zainal Abidin

Sultan Zainal Abidin disebut sebagai penguasa Kerajaan Ternate yang ke-18. Dia memerintah antara1486 hingga 1500 dan merupakan penguasa Ternate pertama yang menggunakan gelar sultan, setelah masuk Islam pada akhir abad ke-15.

Sebelumnya, gelar bagi penguasa Kerajaan Ternate adalah kolano atau raja. Sultan Zainal Abidin juga merombak sistem pemerintahan kerajaan. Kerajaan Ternate pun resmi menjadi pemerintahan bercorak Islam dan Sultan Zainal Abidin dianggap sebagai peletak dasar Islam di sana.

Tidak diketahui Sultan Zainal Abidin lahir pada tahun berapa. Namun yang pasti, dia merupakan putra dari Kolano Marhum, Raja Ternate periode 1465-1486.

Kolano Marhum diketahui sebagai Raja Ternate pertama yang memeluk Islam. Oleh karena itu, Zainal Abidin pun mendapatkan pendidikan agama Islam sejak kecil. Dia mendapat pendidikan Islam langsung dari ulama asal Jawa bernama Datuk Maulana Hussein.

Datuk Maulana Hussein inilah yang berdakwah di Kerajaan Ternate ketika diperintah oleh Kolano Marhum. Kendati demikian, ada sumber lain, yaitu Hikayat Tanah Hitu karya Rijali, yang menyatakan bahwa penguasa Ternate pertama yang memeluk Islam adalah Zainal Abidin.

Setelah Kulano Marhum turun takhta pada 1486, Zainal Abidin menggantikannya ayahnya sebagai pemimpin Kerajaan Ternate. Delapan tahun kemudian, atau pada 1494, Zainal Abidin pergi ke Jawa untuk memperdalam agama Islam.

Zainal Abidin menuju pondok pesantren milik Sunan Giri, di mana ia mendapat julukan Sultan Bulawa atau Sultan Cengkih. Julukan yang diberikan kepada Zainal Abidin ini karena ia datang ke Jawa membawa cengkih dari Bulawa, Gorontalo.

Setelah memperdalam agama Islam di Jawa selama beberapa waktu, Zainal Abidin kembali ke Ternate.

Dari Jawa, Zainal Abidin membawa beberapa ulama untuk mengembangkan agama Islam di kerajaannya, salah satunya adalah Tuhubahanul. Ia kemudian menggunakan gelar sultan, sebagai ganti dari gelar kolano, yang digunakan sebelumnya.

Selain itu, Sultan Zainal Abidin mulai mengganti sistem pemerintahan Kerajaan Ternate menjadi bercorak Islam dan menerapkan hukum Islam di seluruh kesultanan. Sultan Zainal Abidin juga berperan mengembangkan Islam di kerajaannya. Salah satunya dengan mendirikan beberapa sekolah Islam.

Para pengajar dari sekolah Islam yang dibangun oleh Sultan Zainal Abidin berasal dari Jawa. Setelah Islam berkembang di Ternate, pengaruhnya kemudian menyebar ke seluruh Maluku.

Perkembangan Islam di Maluku pun semakin pesat setelah Sultan Zainal Abidin meninggal pada tahun 1500. Sepeninggal Sultan Zainal Abidin, tampuk kekuasaan Kesultanan Ternate jatuh ke tangan putranya, Sultan Bayanullah.

Begitulah, Sultan Zainal Abidin penguasa Kerajaan Ternate menjadi bukti jejak Wali Songo di luar Jawa, tepatnya di Ternate dan Tidore.

Artikel Terkait